Sumber: goodreads
Ronggeng Dukuh Paruk
A. Identitas Buku
Judul buku : Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang : Ahmad Tohari
Tahun Terbit : 1982
Halaman : 520
Bahasa Orisinil: Bahasa Indonesia
ISBN : 9786020681955
B. Sinopsis
Semangat Dukuh Paruk kembali bergejolak sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah lambang. Sejak ketiadaan ronggeng sebelumnya, Dukuh Paruk seolah kehilangan jati dirinya. Ketika Srintil dinobatkan, segeralah ia menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Mulai dari kaula biasa sampai pejabat desa maupun kabupaten, semua ingin bersama ronggeng muda itu.
Nahasnya, Dukuh Paruk yang baru menemukan jati dirinya harus menghadapi kenyataan pahit pasca malapetaka politik tahun 1965 kembali menghancurkan fisik dan mental penduduknya. Desa yang kecil, miskin dan bodoh tersebut terbawa arus dan divonis sebagai “manusia-manusia yang telah mengguncang negara”. Dukuh Paruk dibakar, ronggeng dan para penabuh calungnya ditahan. Selama masa penahanannya, Srintil diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara seolah ia lebih hina dari binatang.
Pengalaman pahit semasa penahanannya mengubah Srintil menjadi sosok yang berbeda. Ia tak ingin lagi menjadi ronggeng milik semua orang yang bekerja sebagai penghibur. Selepasnya dari penahanan, Srintil memperbaiki citra dirinya dengan menjadi wanita somahan. Saat itulah Bajus hadir bagaikan pangeran berkuda putih yang membuncahkan harapan Srintil untuk hidup selayaknya “manusia”. Sayangnya, kehadiran Bajus bukan pertanda baik. Sebaliknya, Bajus justru mendatangkan petaka.
C. Keunggulan dan Kekurangan
“Ronggeng Dukuh Paruk” tidak berpihak pada kubu manapun. Ahmad Tohari sepenuhnya hanya menceritakan kehidupan masyarakat yang tidak beruntung secara geografis. Sentralisasi yang berakibat pada kemajuan wilayah tertentu dan ketertinggalan wilayah yang lain adalah kenyataan yang dikupas secara mendalam oleh “Ronggeng Dukuh Paruk”. Mulai dari penyebab sampai akibatnya, “Ronggeng Dukuh Paruk” mengulas seluruh aspek dari kegagalan desentralisasi. Lebih jauh lagi, “Ronggeng Dukuh Paruk” membongkar kekejaman permainan politik terhadap kaum marjinal. “Ronggeng Dukuh Paruk” tidak berbicara mengenai kubu yang mana yang lebih baik. Ia sepenuhnya menelanjangi keburukan setiap kubu yang bersama-sama memperalat kaum marjinal untuk mempertahankan kekuatan politiknya.
Namun demikian, “Ronggeng Dukuh Paruk” memiliki alur yang cenderung lambat. Untuk membangun suasana, Ahmad Tohari menjelaskan latar secara mendetail sehingga memakan jarak beberapa halaman sebelum masuk kepada permasalahan utamanya. Di samping itu, “Ronggeng Dukuh Paruk” kental akan budaya Jawa. Dalam beberapa bagian, perlu dilakukan riset untuk memaknai simbolisme dalam buku ini. Meskipun demikian, pembaca tetap dapat memahami isu dalam “Ronggeng Dukuh Paruk” walau pemaknaan yang lebih komprehensif hanya dapat dicapai apabila pembaca turut mendalami budaya Jawa.
D. Penilaian Penulis
“Ronggeng Dukuh Paruk” merupakan refleksi kehidupan ronggeng, si wanita kepunyaan bersama. Ia yang tidak boleh jatuh cinta, bersedia diperlakukan layaknya komoditas, sepanjang hidupnya bersifat transaksional, dan tidak ada hak badani. Berbagai kenyataan dituliskan secara gamblang dalam buku ini.
Pertama, kaum proletar adalah kaum rentan. Sebagai kaum marjinal, mereka mudah dijadikan alat politik. Dukuh Paruk yang dikisahkan miskin, bodoh, dan buta huruf adalah gambaran kaum proletar yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kaum yang kerap kali ditinggalkan dalam kemajuan zaman. Alhasil, banyak dari mereka yang ditipu. Andaikata rezim berbaik hati, kaum proletar perlu diantarkan pada kedudukan yang lebih layak. Namun, rezim justru berperan dalam menginjak kaum proletar dan memperalat kaum proletar untuk menguatkan kedudukannya.
Kedua, feodalisme adalah praktik yang sejak lama ada dan masih ada sampai saat ini. Dukuh Paruk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadikan kepercayaan sebagai hiburannya. Kepercayaan inilah yang menjadi pilar keyakinan Dukuh Paruk bahwa penguasa selalu benar. Dengan demikian, “Ronggeng Dukuh Paruk” menunjukkan bahwa keyakinan tanpa logika adalah tipuan yang digunakan sebagai senjata untuk memperbudak penganutnya.
Ketiga, tubuh perempuan kerap dijadikan komoditas. Sebagai kaum marjinal, perempuan adalah kelompok yang rentan dijadikan alat transaksi. Ketika masalah ekonomi kian memuncak, perempuan seolah bertransisi menjadi mata uang. Dewasa ini, komoditasi tubuh perempuan belum berakhir. Perempuan-perempuan Afghanistan yang kehilangan identitasnya sebagai manusia serta seluruh perempuan yang masih hidup di bawah kaki patriarki adalah realita yang tidak dapat disepelekan.
“Ronggeng Dukuh Paruk” adalah buku yang jujur. Netralitas politik Ahmad Tohari dalam membongkar keburukan setiap kubu adalah bukti bahwa “Ronggeng Dukuh Paruk” bukan alat untuk mendukung kubu manapun. Sebaliknya, “Ronggeng Dukuh Paruk” menunjukkan keberpihakannya pada kaum marjinal. Di samping itu, “Ronggeng Dukuh Paruk” menggunakan diksi yang mudah dipahami dan menghindari terminologi yang terlalu kompleks. Dengan demikian, pembaca dapat terhindar dari kesalahpahaman serta dapat mendalami isu utama.
E. Kesimpulan dan Rekomendasi
“Ronggeng Dukuh Paruk” merupakan novel yang kuat. Ia tidak hanya menceritakan kehidupan Srintil sebagai ronggeng, melainkan turut mengangkat kritik sosial atas aspek lain seperti kemiskinan, feodalisme, serta kekejaman politik terhadap kaum marjinal. Meskipun alurnya cenderung lambat dan kental dengan budaya Jawa, “Ronggeng Dukuh Paruk” tetap mudah dipahami karena diksinya yang lugas dan tidak bertele-tele.
Bagi pembaca yang menyukai sastra bertema sosial, budaya, dan sejarah, maka “Ronggeng Dukuh Paruk” adalah literatur yang sangat direkomendasikan. Alangkah lebih baiknya apabila dalam beberapa bagian, pembaca turut mempelajari konteks budaya Jawa dan situasi politik 1965. Dengan demikian, pemaknaan “Ronggeng Dukuh Paruk” dapat dipahami secara mendalam.
Penulis : Mariana Natania Marunduri
Editor : Nadia Jovita
Baca Artikel Menarik Lainnya!
Tak Dianggap Melanggar HAM, MenHAM Dukung Program...
07 May 2025
Waktu Baca: 2 menit
Baca Selengkapnya →
Paradoks Living Law dan Kriminalisasi Masyarakat A...
28 March 2026
Waktu Baca: 7 menit
Baca Selengkapnya →Setu Babakan di Tengah Gempuran Modernisasi: Sejau...
14 July 2026
Waktu Baca: 6 menit
Baca Selengkapnya →